"Karena kau hidup."
Alasan yang begitu klise.
"Jadi kalau aku mati bagaimana?"
Kau tidak menjawabnya: membiarkan pertanyaanku tergantung di udara.
Apakah aku boleh merasa senang karena berfikir kau takut kehilanganku?
Existence
Disclaimer:
+Pause+ : The incomplete ideology poem by Dhiea
Warning:
Headcanon, and maybe, Out of Character
Suara gemuruh mendesir nyaring di angkasa. Awan columbus bergulung ketika kepala seorang anak perempuan bersurai senada dengan lautan atlantik ini terngadah.
"Akan hujan." Suara itu. Sebuah drum tertabuh di kepalanya. Anak perempuan itu—Dhiea Seville—memalingkan wajahnya sejenak untuk melihat lawan bicaranya.
"Kau benar—oh tentu saja, karena kau bisa tahu hanya dengan melihatnya," sebuah buku yang tertumpu di telapak tanganku tertutup; mengikuti perintah. "kau sedang apa di luar, Mo-kun?" menambahkan suffix '-kun'. Lucu sekali. Padahal sekarang bukan di Jepang dan—kami bukan orang Jepang. Batin Dhiea.
"Masuk, Dhiea. Kau akan kehujanan."
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Rintikan kecil berdesakan turun. Berlomba siapa yang pertama kali jatuh. Dhiea, gadis ini mencoba menerka siapa yang memenangkan perlombaan itu. Tapi ia segera mengurungkan niatnya.
"Aku ingin di luar—sendirian." Sebuah penekanan. Dhiea mengernyit. Mo, pemuda ini, memang benar-benar ingin sendirian.
"Baiklah, kalau kau membutuhkan secangkir earl grey, kau bisa masuk ke dalam dan menghangatkan tubuhmu." Sebuah langkah tungkai kaki memperpanjang teritorial mereka.
Gadis dengan helaian Sapphire menjuntai sepundak ini melangkah masuk ke dalam. Langkah kakinya beraturan. Terdengar senada dengan gemerisik tangisan cakrawala di luar. Nafasnya mendesis pelan. Genggamannya pada buku yang terseret di pergelangan tangannya menguat. Ia menyandarkan punggung mungilnya pada dinding berpoles marmer yang dingin.
Di luar, rintikan hujan menderu menjadi badai. Menyamarkan isakan pelan yang ia hempas ke udara.
Ia sendiri tidak tahu mengapa menangis dan mengapa ia tetap membiarkannya. Seakan ada beban yang tertumpu di ke dua pundak mungilnya. Dan ia tidak tahan; beban itu seakan meruntuhkan tubuhnya jika ia tidak mengeluarkannya saat ini juga. Untuk kesekian kalinya ia bersyukur Mo sedang berada di luar.
Sendirian.
Dhiea, gadis ini mengadah, mengamati langit-langit mansionnya dengan tatapan yang nyaris tanpa makna. Kosong. Walau ia memikirkan satu eksistensi di benaknya. Saudara kembarnya sendiri—Mo Seville.
Tidak, mereka tidak kembar, apalagi bersaudara. Mereka hanya berwajah sama dan itu pasti sebuah kebetulan. Kebetulan yang menghancurkan semuanya. Bahkan ia gagal meyakinkan Mo bahwa mereka itu berbeda aliran darah. Lagipula, kalau mereka memang satu aliran darah, dunia yang tergenggam oleh ilusi ini tak terkendalin. Dan di dalam ramalan yang dikatakan oleh Ville, hanya satu yang menanggung semuanya. Dan itu hanyalah dia. Sendirian.
Tapi Mo menangkisnya,
"Kita bersaudara."
Tatapan yang biasanya sehangat sinar mentari itu tak lagi lebih buruk daripada badai salju yang pernah melanda Arktik. Saat itu Dhiea hanya terpaku. Ia tak bisa menampik atau menyangkal; hal yang biasa ia lakukan jika tak setuju dengan Mo. Iris matanya membisu menangkap garis pandang pemuda di hadapannya.
Dalam sepanjang nafasnya, saat itu adalah pertama kalinya ia merasa eksistensinya tak lagi diakui oleh dunia.
Sebuah derap langkah menyibak delusi yang terperangkap dalam alam bawah sadar Dhiea. Gadis ini langsung menghapus jejak air mata di pipi dengan punggung tangannya. Mo Seville, dia mulai mengikuti akal sehatnya untuk menghangatkan diri di dalam.
"Mo-kun, kau basah kuyup," Dhiea melangkah kecil menghampirinya, "ingin kudapan? tentang Earl Grey—maaf aku belum membuatkannya,"
"dan kebetulan, ini sudah saatnya afternoon tea." tambahnya pelan.
Pemuda dihadapannya membisu. Tak menjawab lontaran pertanyaan sang gadis yang menguar di udara.
"Aku ingin di kamar."
"Tapi kau basah kuyup—"
"Tinggalkan aku sendirian."
Dhiea mengeratkan kembali buku yang tergantung di tangannya. "Kau berubah, Mo-kun,"
"sejak kejadian itu," tenggorokannya mendadak menjelma menjadi gurun pasir, "kenapa?"
"kalau memang kita bersaudara, kenapa kausampai berubah seperti ini?!"
Ah, ternyata, ia sekarang mengetahui bahwa Mo hanya menepis kenyataan. Mo mepertajam teritorial di antara mereka. Ia membangun sebuah dinding. Jarak. Dan semua itu berasa salah di benak Dhiea; Ia tak menginginkan ini.
Mo bergeming. Mematung pada posisinya berdiri.Garis pandangnya lurus ke depan. Dhiea menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.
"Kaumenghindariku—
"Karena kautahu, kaubisa membaca pikiranku, bahwa—
—Aku mencintai—"
"KITA BERSAUDARA!" Lengkingan. Denting angkara dari pita suara Mo beradu dengan dentuman halilintar di cakrawala. Ke dua bola mata Dhiea membulat.
"—mu."
Air mata
menyeruak dari kelopak matanya. Mencoba melepaskan diri. Seperti hujan:
mereka berdesakan turun.
Pemuda itu terhenyak.Seakan dirinya yang sebenarnya sudah kembali. Seakan 15 detik yang lalu tubuhnya dikuasai oleh imp. Dan, ya, sekarang ia sudah kembali. Dengan hempasan nafas menderu dan keringat dingin sebesar biji jagung turun membasahi pelipis matanya.Ke dua pupil matanya mengkerut. Ia menepis tubuh Dhiea dan berjalan melaluinya. Meninggalkannya. Sendirian.
Tubuh mungil Dhiea terhempas ke lantai. Ia masih membisu. Bibirnya bergetar.
Dan entah kenapa, bibir itu membentuk sebuah seringai. Seringai getir yang menyeramkan. Dengan ke dua pupil di matanya mengecil. Menajam. Bukan karena angkara yang mengekorinya tapi karena keputusasaan yang membuatnya harus berdiri di antara dua pilihan: menangis atau sebaliknya.
"Bahkan bunuh diri dapat membuatku hidup kembali."
TBC?
SEKALI LAGI. AKU NULIS APAAN SIH. YAAMPUN. Pertama-tama mohon maaf untuk mba Dhiea karena make fandomnya seenak jidat lalu menistakan karakter-karakternya.
Btw +Pause+ bukan anime maupun Manga. Yah, bisa dibilang cuma err... original.. characters? (?) mungkin.Dan aku iseng-iseng bikin cerita ini gara-gara lagu Miku yang Shinkai Summit. Padahal gaada hubungannya sama cerita ini.
Next time.. kalo niat lanjut ya.
+Pause+ : The incomplete ideology poem
Silahkan ditebak mana Mo dan mana Dhiea
Dan bagiku, mereka berdua unyu sangat.
Oyasumi.
Source : Zerochan




















































